Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Satu satunya suku di Indonesia yang menyatakan dirinya suatu Bangsa (Bangso) adalah Suku Batak. Hal ini bukan tidak berdasar yaitu terbukti dengan adanya suku batak di berbagai tempat di penjuru Indonesia bahkan Dunia. Menurut jurnal bahwa suku Batak adalah salah satu suku yang paling cepat beradaptasi dengan perkembangan jaman dan tempat. Selain dari logat yang begitu kental maka identitas yang tidak bisa dihilangkan adalah dengan adanya MARGA. Maka jangan heran banyak yang membuat nama panggilan ketika pertama bertemu dengan marga bukan nama.

Ketika merantau maka salah satu pesan orang tua dan sanak saudara kita adalah “lului ma natua tua dohot naboi pangalu aluanmu di pangarattoanmu”. Secara universal dapat diartikan bahwa modal pergaulan adalah yang utama Bagi orang Batak di tanah rantau. Ketika bertemu dengan orang batak di rantau secara spontan kita bangga dan merasa aman karena ada dorongan untuk saling memiliki (makkuling mudar) sebagai sesama Batak walau beda marga. Sehingga ketika pergi ke suatu daerah di tanah rantau pasti ada dibentuk suatu komunitas sebagai bentuk solidaritas Batak dan cikal bakal kekeluargaan tadi baik itu daerah, marga, perkumpulan marga dan lain sebagainya..

Kebanyakan orang berpikir bahwa solidaritas itu hanya sebatas berkumpul, merasakan suka duka dan saling komunikasi. Padahal di masyarakat batak itu sangat berarti terutama di bagian adat terkhusus perkumpulan marga dan sub marga. karena sesuatu hal yang mustahil adat bisa berjalan tanpa adanya atau gabung ke kumpulan marga tersebut. Dan pada umumnya orang Batak yang dirantau adalah orang yang sukses dan bisa dibilang hidupnya cukup mapan, jadi sesuatu hal yang lumrah jika pesta adat dirantau itu mahal dan cukup mewah baik dari segi fisik acara maupun adat. Tapi yang menjadi pertanyaan yang harus kita jawab dan direnungkan dalam dalam pada diri kita sendiri. Sudahkah saya memberikan kontribusi dan kepedulian terhadap daerah saya tanah Batak? mungkin secara pribadi kita tidak sanggup saya ubah menjadi Sudahkah perkumpulan marga saya atau daerah saya memberikan kepedulian dan kontribusi positif di bona pasogit (tanah batak)?  Mohon maaf bagi yang sudah berbuat atau sudah memiliki perencanaan kearah sana tetapi pada umunya masih banyak yang belum peduli terhadap tanah batak.

Padahal jika kita lihat setiap acara masing masing perkumpulan berlangsung dengan meriah misalnya pesta bona taon dan acara pendukung lainnya. Semuanya saling membantu dan sangat semangat membantu kelancaran acaranya supaya berlangsung dengan meriah baik dari segi tenaga, pikiran, finansial (manumpahi).  Ditambah lagi dalam acaranya yang seakan akan tidak ada lagi yang kurang seperti tor tor, saweran, lelang dan kegiatan sejenisnya yang mencerminkan kemewahan semuanya berusaha memberikan yang terbaik dan disitulah terlihat bahwa Batak itu kompak dan tercermin kekeluargaan yang sesungguhnya.

Jika kita asumsikan, anggota seluruh kumpulan  marga Batak yang ada di luar Tanah Batak sekitar 500 ribu rumah tangga dimana setiap keluarga mengikuti  minimal dua Kumpulan Marga yaitu dari pihak suami dan istri, maka  seluruh kumpulan marga ada 1 juta anggota.  Jika kita adopsi GEBU MINANG (Gerakan Budaya Minangkabau) yang mengumpulkan minimal rp.2000/bulan/per anggota setiap bulan untuk disumbangkan membangun nagari di Sumbar, maka potensi yang dapat di kumpulan seluruh anggota Kumpulan Marga Batak minimal, sekali lagi minimal Rp. 2 millyar perbulan atau Rp. 24 millyar pertahun. (palambokpusupusu.co.id)

Dana sebesar ini sudah cukup membantu untuk membangun daerah bona pasogit untuk setiap tahunnya dengan tujuan kepedulian terhadap tanah batak. Salah satu Gubernur kita pernah membuat semboyan MARTABE ( Marsipature Huta na Be) tapi bagaimana kita bisa Paturehon kalau kita sendiri tidak peduli. Kepada pemerintah? itu tidak cukup dan kita juga bisa lihat hasilnya. Kita sudah lupa ketika masih kecil dengan omongan orang tua kita “napinabalga ni gadong dohot gulamo” kadang kalau kerbau beranak beberapa bulan kemudian susunya diperah dan itulah yang membuat kita bertahan hingga hidup cukup dan untuk sebagian enak hingga sekarang ini. Tapi ketika kita lihat Bona Pasogit tidak banyak yang berubah, masih seperti yang dulu tinggal kita sebagai perantau dan generasi muda untuk menyikapinya karena semua yang bermarga batak pasti asalnya dari tanah batak dan saat matipun tulang tulang kita akan dibawa ketanah Batak walaupun tinggal tanah.

Para generasi muda Batak di tanah rantau sudah seharusnya peduli dan menjadi pemprakarsa akan kemajuan Tanah Batak yang kita cintai alana Arga do bona ni pinasa, sai ingot ma mulak tu Huta ai disi Huta hatubuanmi jala ikkon tusi do hita mulak baik mangolu manang mate. Horaaasss bangso Batak….

Oleh: Mario Champs Sinurat

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here