Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

oleh : Agus Ebenezer Manalu

Hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara tiap entitas yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosialperankategori, dan silsilah. Hubungan keluarga dapat dihadirkan secara nyata (ibusaudarakakek) atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Sebuah hubungan dapat memiliki syarat relatif (mis., ayah adalah seseorang yang memiliki anak), atau mewakili secara absolut (mis, perbedaan status antara seorang ibu dengan wanita tanpa anak). Tingkatan kekerabatan tidak identik dengan pewarisan maupun suksesi legal. Banyak kode etik yang menganggap bahwa ikatan kekerabatan menciptakan kewajiban di antara orang-orang terkait yang lebih kuat daripada di antara orang asing, seperti bakti anak

BATAK  merupakan salah satu suku terbesar ke-3 di Indonesia  yang kaya akan budaya dan adat budaya serta bahasa dan memiliki salam khas, suku ini dikenal bermental baja tidak kenal rasa takut dan bersuara keras, memiliki marga, suku batak identik pergi merantau untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Batak sendiri memiliki sub suku  yaitu

  1. Batak Toba dengan salam khas Horas Ma dihita Saluhutna,
  2. Batak Karo dengan salam khas Mejuah juah Kita kerina,
  3. Batak Simalungun dengan salam khas Horas Banta Haganupan.
  4. Batak Pakpak dengan salam kas Njuah juah Mo Banta Kerina.
  5. Mandailing dan Angkola dengan salam khas Horas Ma Tondi Madingin Pirma Tondi Matogu.

                                                               Pada suku Batak ada dikenal dengan konsep tingkatan, kedudukan, kekerabatan namun bukan seperti kasta karena kekerabatan ini tidak bersifat tetap lebih menyesuaikan bentuk kerja atau kegiatannya. Satu orang bisa menjalan 3 posisi ini dalam kegiatan yang berbeda. Tiga kedudukan hukumnya wajib dalam setiap kerja, acara atau kegiatan, setiap suku memiliki penyebutan yang berbeda namun hakikatnya dapat dikatakan sama, sebagaimana diuraikan sebagai berikut :

  1. Batak Mandailing dan Angkola dikenal falsafah Dalihan Na Tolu yang terdiri dari Mora, Kahanggi, Anak Boru
  2. Batak Toba dikenal falsafah Dalihan Na Tolu yang terdiri dari Hula-hula, Dongan Tubuh, Boru
  3. Batak Simalungun,  dikenal falsafah Tolu Sahundulan yang terdiri dari Tondong, Suhut, Anak Boru
  4. Batak karo dikenal falsafah Rakut sitelu atau deliken sitelu yang terdiri dari Kalimbubu, Senina, Anak Beru
  5. Batak Pak-Pak Dairi dikenal dengan falsafah Daliken Sitelu yang terdiri dari Kula, Dengan Tubuh, Beru

Ketiga kedudukan atau kekerabatan ini adalah  Mora, Hula-hula Tondong dan Kalimbubu adalah pihak keluarga asal isteri sebagai tempat meminta pendapat, nasehat kerja dan jika dikaitkan dengan pemerintahan dekat sekali dengan fungsi legislatif sebagai tempat meminta pendapat.

Kahanggi, Dongan tubuh, Suhut, Senina adalah pihak keluarga inti sebagai pemilik kerja untuk menjamin acara berjalan dengan baik  dan jika dikaitkan dengan pemerintahan dekat sekali dengan fungsi Yudikatif sebagai penilai dan tanggung jawab acara.

Anak Boru, Boru, dan Anak Beru adalah Pihak keluarga penerima isteri sebagai pelaksana kerja atau melayani kerja  dan jika dikaitkan dengan pemerintahan dekat sekali dengan fungsi eksekutif sebagai pelayanan dan pelaksana kegiatan.

Sehingga dalam kegiatan acara mulai dari lahir hingga meninggal dunia, ketiga kekerabatan ini saling mengisi dan bekerja sesuai dengan fungsinya. Suatu acara atau kegiatan adat akan tidak sempurna jika ketiga kekerabatan ini menjalankan fungsinya dan tugasnya. Begitu juga jika salah pihak mencampuri tugas dan fungsi yang lain, maka acara tersebut diyakini akan banyak ketimpangan dan menjadi hal yang tabu. Demikian juga dengan pemerintahan di negeri ini tidak akan dapat berjalan dengan baik jika masing-masing tidak menjalankan fungsinya masing-masing baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif.  Mudah-mudahan dengan berkaca pada akar budaya yang ada, pemerintahan dapat berjalan dengan baik.

Legislatif mampu memberikan pedoman kerja, nasehat serta bimbingan layaknya Mora/Hula-hula/Tondong/Kalimbubu kepada eksekutif sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik seperti tugasnya boru/anak boru/anak beru serta Yudikatif dapat mengawasi pelaksanaan pemerintahan  layaknya kahanggi/Dongan tubuh/suhut/senina. Sahabat Indonesia Berubah juga berharap para pemimpin negeri dapat berlaku sesuai peranannya masing-masing untuk mewujudkan Indonesia Baru yang afdol.

Batak Toba : Dalihan Na Tolu

  1. Somba Marhula Hula
  2. Manat Mardongan Tubu
  3. Elek Mrboru

Batak Karo : Rakut sitelu

  1. Mehamat Man Kalimbubu
  2. Metenget Man Sembuyak, Senina
  3. Metami Man Anak Beru

Batakn Simalungun :Tolu Sahundulan

  1. Martondong Ningon Hormat, Sombah
  2. Marsanina Ningon Pakker, Manat
  3. Marboru Ningon Elek

Batak Pakpak  : Daliken Sitelu

  1. Sembah Merkula kula
  2. Manat Mardenggan Tubuh
  3. Elek Marberu

Batak Mandailing & Angkola : Dalian Na Tolu

  1. Hormat Marmora
  2. Manat Mar Kahanggi
  3. Elek Maranak Boru

Keharmonisan Adat Batak

Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan bahwa “Roda Kehidupan Akan Selalu Berputar“. Setiap orang tidak selamanya diatas dan tidak pula selamanya dibawah dalam seluruh perjalanan hidupnya. Begitulah filosofi “Roda Berputar“ itu telah melekat dan menyatu kedalam filosofi adat masyarakat Batak Toba yang domninan berasal dari Danau Toba Sumatera Utara.

Filosofi adat batak yang telah beratus tahun menjadi sebuah kearifan lokal masyarakat batak tersebut adalah Adat Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu yang berarti tungku yang berkaki tiga merupakan filosofi kedua dalam kehidupan masyarakat Batak setelah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa berkaki tiga? Hal itu agar supaya terjadi sebuah keseimbangan yang tetap menjaga keharmonisan hubungan dalam tungku kekeluargaan.

Dalihan Na Tolu esensinya terbagi 3 yaitu: Somba marhula-hula (Tulang), Elek marboru (Boru), dan Manat mardongan tubu (Semarga) yang tentunya memiliki hak dan kewajiban terstruktur dan bersifat tetap. Somba Marhula-hula merupakan istilah pertama yang bermakna bahwa kita harus menghormati hula-hula kita yang merupakan saudara laki-laki dari pihak istri (Saudara laki-laki dari seorang perempuan). Istilah kedua adalah Elek Marboru yang bermakna kelemah-lembutan dalam bersikap terhadap boru perempuan yang merupakan saudara perempuan kita. Dan istilah ketiga adalah Manat Mardongan Tubu yang berarti bahwa kita harus akur terhadap saudara yang semarga dengan kita.

Ketiga istilah dalam Dalihan Na Tolu tersebut melekat pada diri setiap orang Batak. Setiap orang Batak pada suatu waktu akan berposisi sebagai salah satu diantara hula-hula, atau berposisi sebagai boru dan atau berposisi sebagai dongan tubu. Hal itu tergantung sebagai apa posisinya dalam adat pada waktu sebuah pesta adat dilaksanakan. Contohnya pada sebuah acara perkawinan, saya akan berposisi sebagai hula-hula terhadap saudara perempuan saya, namun dilain pihak saya beserta istri juga akan berposisi sebagai boru terhadap saudara laki-laki dari pihak istri. Dan saya akan berposisi sebagai dongan tubu ketika saya bertemu dengan saudara yang semarga dengan saya.

Ketiga istilah dalam Dalihan Na Tolu tersebut melekat pada diri setiap orang Batak. Setiap orang Batak pada suatu waktu akan berposisi sebagai salah satu diantara hula-hula, atau berposisi sebagai boru dan atau berposisi sebagai dongan tubu. Hal itu tergantung sebagai apa posisinya dalam adat pada waktu sebuah pesta adat dilaksanakan. Contohnya pada sebuah acara perkawinan, saya akan berposisi sebagai hula-hula terhadap saudara perempuan saya, namun dilain pihak saya beserta istri juga akan berposisi sebagai boru terhadap saudara laki-laki dari pihak istri. Dan saya akan berposisi sebagai dongan tubu ketika saya bertemu dengan saudara yang semarga dengan saya.

Meskipun terlihat simple, namun ketika dirunut dalam sebuah pesta besar maka akan sangat sulit dan hanya raja adat dan para orang tualah biasanya yang sudah memahaminya dengan benar. Untuk prosesi pelaksanaan acara adat, selalu disesuaikan fungsi seseorang dalam acara adat tersebut. Terciptanya pola pikir demikian, karena relasi kekerabatan ditata dalam sistem dalihan na tolu yang diwariskan turun temurun. Apabila melanggar tatanan adat, berarti melanggar petuah leluhur yang berarti pula menentang kehendak masyarakat sekitarnya yang tentu saja dapat menjadi bahan pembicaraan, atau dikucilkan dari lingkungan masyarakatnya.

Setiap orang Batak dalam sebuah pesta/acara adat pasti akan berposisi diantara salah satunya yaitu mungkin akan melakoni sebagai hula-hula, atau boru atau dongan tubu. Itulah sebabnya diawal saya menyatakannya sebagai sebuah “roda yang berputar“ atau sebagai tungku yang berkaki tiga. Dengan adat yang kompleks seperti itu, Tak salah jika orang Batak disebut sebagai sebuah bangsa karena memiliki dan menjujung adat Dalihan Na Tolu yang terkenal hingga keluar negeri seperti Jerman.

Konsep “Roda Berputar” ini dimiliki semua sub suku batak setiap karena arti dari sistem kekerabatannya sama semua hanya penyebutannya saja yang berbeda. setiap orang akan mendapatkan posisi yang berbeda dari tiga indikator sistem kekerabatan tersebut dan telah diwariskan turun temurun.

Horas!! Mejuah juah!!! Njuah Njuah…!

Dari berbagai sumber…

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here