Latar Belakang Pendirian

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Parhata (Parsadaan Mahasiswa Batak) Semarang didirikan 20 tahun yang lalu, tepatnya 27 April 1996, oleh para mahasiswa Batak yang berkuliah di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang yang berkampus di Tembalang. Saat itu daerah Tembalang adalah kawasan kampus Baru UNDIP.

Sebagaimana kampus baru di daerah yang masih pedesaan, selain belum semua fakultas dan jurusan – hanya bidang eksakta di kampus baru tersebut – juga sarana dan prasarana infrastruktur pun belum cukup memadai sebagai area pusat pendidikan.

Mahasiswa Batak yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia diperkirakan setiap tahun berkampus di UNDIP Tembalang sebanyak 100 orang. Sebagai mahasiswa baru dan angkatan ke empat mendiami kawasan Tembalang – kampus baru UNDIP resmi dibuka tahun 1992 – terdapat banyak hambatan dan tantangan dalam kehidupan kampus dan bersosialisasi dengan lingkungan bermasyarakat. Faktor kesulitan beradaptasi dengan kehidupan perguruan tinggi dan tantangan ‘benturan’ budaya (bahasa, adat istiadat dan interaksi) setempat yang masih kental Jawa menjadi perhatian para mahasiswa baru – khususnya mahasiswa Batak.

Belum lagi pada masa itu, kehidupan kampus di masa Orde Baru yang hegemonik dan seragam, memaksa mahasiswa untuk tidak begitu aktif dalam bekumpul dalam organisasi yang beridentitas kesukuan dan ekstra kampus. Juga, mahasiswa hanya dituntut untuk belajar di kampus. Kenyataan ini menjadi tantangan tersendiri untuk menginisiasi pendirian sebuah organisasi. Organisasi apapun pada masa itu dituntut untuk mempunyai bentuk yang jelas. Bila tidak, stigma organisasi ‘liar’ dan tanpa bentuk disematkan sebagai alat kontrol pemerintah kepada aktifitas mahasiswa dan kemasyarakatan.

Dekade 1990-an adalah era berbangsa dan bernegara dalam transisi demokrasi dari hegemonik, otoritarian menuju tuntutan kebebasan, kesetaraan, dan keterbukaan menjadi negara ‘modern’. Benturan peradaban pun semakin dinamis. Di saat dunia dimasuki teknologi dan informasi yang semakin deras, maka tuntutan ke arah yang lebih demokratis pun semakin kencang. Masa 1990-an sebagai akhir abad 20 juga diyakini sebagai masa peralihan peradaban dari kehidupan ‘konvensional’ – ke zaman teknologi digital nan canggih – seperti yang kita alami di abad 21 ini. Dari mahasiswa bermesin ketik menjadi mahasiswa yang berkomputer.

Problematika ini dijawab oleh mahasiswa Batak saat itu dengan mendirikan organisasi Parhata sebagai media kumpul untuk berkomunikasi dan informasi yang berfokus pada pembinaan pada pendidikan para mahasiswa Batak. Juga organisasi ini diarahkan pada pelestarian nilai-nilai dan budaya (seni, bahasa, adat-istiadat) Batak di kalangan mahasiswa Batak di UNDIP Tembalang.

Arah organisasi ini diambil karena mahasiswa Batak saat itu berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Ada yang belum bias berbahasa Batak, ada yang belum tahu adat istiadat Batak, juga tantangan bagaimana mahasiswa Batak hidup bermasyarakat di lingkungan budaya Jawa. Hal-hal tersebut menjadi pergumulan organisasi ini.
Oleh sebab itu, Parhata mengambil ‘tagline’ nya Sahata, Saroha, Saoloan. Yang dapat diartikan Sehati, Sepikir dan Seiya Sekata untuk bersama-sama menjawab pergumulan mahasiswa Batak saat itu.

Pada perkembangan berikutnya, Parhata memasuki dirinya sebagaimana organisasi. Melakukan program organisasi, menjalani pergantian kepengurusan secara periodik dan berkembang bersama dengan lingkungan masyarakatnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.